.quickedit { display:none; }

Minggu, 28 Oktober 2012

Review

Setiap profesi membutuhkan pengetahuan dan keahlian khusus, dan setiap profesional diharapkan mempunyai kualitas personal tertentu. Demikian pula halnya dengan profesi bidang akuntansi baik dalam akuntansi sektor publik yang bekerja di kantor akuntansi public (KAP) maupun akuntansi sektor swasta yang bekerja di perusahaan swasta. Mahasiswa khususnya mahasiswa fakultas ekonomi yang merupakan salah satu sumber daya potensial sebagai staf professional yang memiliki kualitas personal tertentu sebagai bekal mencari kerja dan berkarir di bidang akuntansi. Sementara itu di dalam lingkungan yang semakin kompleks dan kompetitif, perilaku etis juga menjadi topic yang selalu menjadi perhatian. Secara histories akuntan dipersepsikan sebagai profesi yang lebih menekankan etika dibandingkan profesi lain (Ross, 1988)Akuntan memiliki kewajiban pada perusahaannya, profesi, public dan diri mereka sendiri untuk menegakkan standar tertinggi dalam perilaku etis. Mereka memiliki kewajiban agar kompeten dan memelihara kepercayaan, integritas dan obyektifitas. Nilai dari system etika mempengaruhi tidak hanya perilaku akuntasi tetapi juga keberhasilan akuntansi. Semakin meningkatnya proporsi perempuan yang telah menunjukkan prestasinya pada beberapa tahun terakhir di dalam pendidikan tinggi khususnya akuntasi, dan karenanya memiliki kesempatan yang lebih besar di dalam posisi staf, supervisor dan pemilik jabatan-jabatan yang berkaitan dengan akuntansi. Temuan studi Ameen et al. (1996) menunjukkan bahwa masuknya akuntan perempuan dapat memiliki dampak positif pada komunitas bisnis. Contohnya, pejabat perempuan akan cenderung tidak mengijinkan manajemen untuk menyajikan informasi keuangan yang salah. Kemungkinan kehadiran lebih banyak perempuan pada posisi “kekuasaan” dalam dunia profesional dapat memberi perubahan struktural pada organisasi bisnis. Shaub et al. (1993) menekankan pentingnya peran pendidikan etika yang dapat meningkatkan kesadaran etika, dan temuan Ameen et al. (1996) mengungkap pengaruh gender pada sensitivitas etis perlu dipertimbangkan ketika mengembangkan pendidikan etika atau materi pelatihan. Prinsip Etika Profesi Akuntan 1. Prinsip Pertama – Tanggung Jawab Profesi Dalam melaksanakan tanggung-jawabnya sebagai profesional setiap anggota harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan yang dilakukannya. 2. Prinsip Kedua – Kepentingan Publik Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukkan komitmen atas profesionalisme. 3. Prinsip Ketiga – Integritas Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik, setiap anggota harus memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin 4. Prinsip Keempat – Obyektivitas Setiap anggota harus menjaga obyektivitasnya dan bebas dari benturan kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya. 5. Prinsip Kelima – Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya tkngan kehati-hatian, kompetensi dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan dan keterampilan profesional pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa klien atau pemberi kerja memperoleh matifaat dari jasa profesional yang kompeten berdasarkan perkembangan praktik, legislasi dan teknik yang paling mutakhir. 6. Prinsip Keenam – Kerahasiaan Setiap anggota harus, menghormati leerahasiaan informas iyang diperoleh selama melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban profesional atau hokum untuk mengungkapkannya 7. Prinsip Ketujuh – Perilaku Profesional Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi 8. Prinsip Kedelapan – Standar Teknis Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan standar teknis dan standar proesional yang relevan. Sesuai dengan keahliannya dan dengan berhati-hati, anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan penugasan dari penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan obyektivitas.

Senin, 30 April 2012

Agree in Future

Agree in future I do not agree to keep such an arrangement in the future due to concerns about the future of mankind is essential and justified, but they can not help increase the productivity of 25 years was capable of but not involved by the end of the month. For that, we should try to divide the massive project to digestible bites, with a healthy slathering of praise for each phase will be done Do you agree ? I agree with this category, because Baby Boomers represent the largest of the three groups, accounting for approximately 40 percent of the workforce population. Baby Boomers were born between 1946 and 1964 by post-WWII parents who gave birth at a “booming” pace. This is the group at the heart of the impending labor shortage that will start in 2008, the first year that the Baby Boomers hit the average retirement age in the United States of 62½. Generation X is the smallest of the three groups, representing roughly 16 percent of the workforce population. These people were born between 1965 and 1980. The smallness of this group magnifies the Baby Boomers’ impact as they march toward retirement. Most Gen Xers work under the supervision of a Baby Boomer, and this alone has been the root of many performance management issues. Generation Y, sometimes called the “Baby Boomer Echo” because they are the children of the Baby Boomers, represent 25 percent of the workforce. They were born after 1980 and provide some support in numbers, but they are at the heart of the skills-deficiency crisis, especially in the maintenance industry where so much of the critical skill sets are locked in the heads of Baby Boomers. Source : http://luluwahyuni.blogspot.com/2012/04/agree-in-future.html

Why do you work

When you ask people why they work, a lot of them will say they’re ‘only in it for the money’. When you work for money, you can be financially independent, and have some control over your life. Sometimes money truly is the only reason a person works. But most people have more substantial reasons for working. For example: • They like to spend their days doing something they’re good at. • They like being productive. • Other people need their skills, and they feel obliged to supply them. This all sounds wonderful, but you’d need at least some money to do most of these things. Relaxing and doing what you please is great for a holiday, but after a while the pleasure can wear off and you can feel aimless and bored Source : http://luluwahyuni.blogspot.com/2012/04/why-do-you-work.html

Distinguish factor

Distinguish factor Ten differences between Generation X and Generation Y employees Recruitment is an ever changing landscape, and with demographics continually changing it makes for some interesting recruiting strategies going forward. The early Baby Boomers (defined as being born between 1946 to 1964, and aged between 43-61) are now starting to retire, and as recruiters we are now having to put more of a focus on Generation X-ers (defined as being born between 1965 to 1979, and aged between 28-42) and Generation Y-ers (defined as being born between 1980 and 1984, and aged between 13-27). But to recruit and retain people from these two generations, then we surely need to understand what makes them tick in a working environment. Krista Third of Tamm Communications has noted ten different workplace differences between the X and Y generations that we should all take note of: 1. Preferred style of leadership X - only competent leaders will do Y – collaboration with management is expected 2. Value of Experience X – don’t tell me where you have been, show me what you know Y – experience is irrelevant, as the world is changing so fast 3. Autonomy X – give them direction, and then leave them to it Y – questions, questions, questions 4. Feedback X - expect regular feedback Y - need constant and immediate feedback 5. Rewards X – freedom is the ultimate reward Y – money talks 6. Training X – want to continually learn, if they don’t they will leave Y – still in an exam driven mentality 7. Work Hours X – do their work and go home Y – will work as long as needed …or until they get bored 8. Work Life Balance X – they want to enjoy life to the full, while they are young enough to do so Y – their lives are busy – they need alot of ‘me’ time 9. Loyalty X – they are committed as everyone else working there Y – already working out their exit strategy 10. Meaning of Money X – it gives freedom and independence Y - just something that allows them to maintain their lifestyle Source : http://blog.sironaconsulting.com/sironasays/2007/12/our-futurex-ver.html

Kamis, 03 November 2011

Contoh Peribahasa Indonesia

1. Besar pasak daripada tiang artinya lebih besar pengeluaran daripada pendapatan. bisa dibilang orang yang tidak bisa mengatur keuangan.

2. Ada uang abang di sayang, tak ada uang abang ditendang Artinya hanya mau bersama disaat senang saja tetapi tidak mau tahu disaat sedang susah.

3. Air beriak tanda tak dalam Artinya orang yang banyak bicara biasanya tidak banyak ilmunya.

4. Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama.

Artinya setiap orang yang sudah meninggal pasti akan dikenang sesuai dengan perbuatannya di dunia.

5. Bagai pungguk merindukan bulan

Arti seseorang yang membayangkan atau menghayalkan sesuatu yang tidak mungkin.

6. Bagai Makan Buah Simalakama

Artinya: bagai seseorang yang dihadapkan pada dua pilihan yang sangat sulit untuk dipilih.

Pengertian CERPEN dan ciri-cirinya

Cerita pendek atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan short story, merupakan satu karya sastra yang sering kita jumpai di berbagai media massa. Namun demikian apa sebenarnya dan bagaimana ciri-ciri cerita pendek itu, banyak yang masih memahaminya.

Cerita pendek apabila diuraikan menurut kata yang membentuknya berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut : cerita artinya tuturan yang membentang bagaimana terjadinya suatu hal, sedangkan pendek berarti kisah pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam situasi atau suatu ketika ( 1988 : 165 ).

Menurut Susanto dalam Tarigan (1984 : 176), cerita pendek adalah cerita yang panjangnya sekitar 5000 kata atau kira-kira 17 halaman kuarto spasi rangkap yang terpusat dan lengkap pada dirinya sendiri.

Sementara itu, Sumardjo dan Saini (1997 : 37) mengatakan bahwa cerita pendek adalah cerita atau parasi (bukan analisis argumentatif) yang fiktif (tidak benar-benar terjadi tetapi dapat terjadi dimana saja dan kapan saja, serta relatif pendek).
Dari beberapa pendapat di atas penulis simpulkan bahwa yang dimaksud dengan cerita pendek adalah karangan nasihat yang bersifat fiktif yang menceritakan suatu peristiwa dalam kehidupan pelakunya relatif singkat tetapi padat.

Ciri-ciri Cerita Pendek

Di atas penulis kemukakan bahwa masih banyak orang belum mengetahui ciri-ciri sebuah cerita pendek. Mengenai hal tersebut, di bawah ini penulis kemukakan ciri-ciri cerita pendek menurut pendapat Sumarjo dan Saini (1997 : 36) sebagai berikut.
Ceritanya pendek ;

* Bersifat rekaan (fiction) ;
* Bersifat naratif ; dan
* Memiliki kesan tunggal.

Pendapat lain mengenai ciri-ciri cerita pendek di kemukakan pula oleh Lubis dalam Tarigan (1985 : 177) sebagai berikut.

* Cerita Pendek harus mengandung interprestasi pengarang tentang konsepsinya mengenai kehidupan, baik secara langsung maupun tidak langsung.
* Dalam sebuah cerita pendek sebuah insiden yang terutama menguasai jalan cerita.
* Cerita pendek harus mempunyai seorang yang menjadi pelaku atau tokoh utama.
* Cerita pendek harus satu efek atau kesan yang menarik.

Menurut Morris dalam Tarigan (1985 : 177), ciri-ciri cerita pendek adalah sebagai berikut.

* Ciri-ciri utama cerita pendek adalah singkat, padu, dan intensif (brevity, unity, and intensity).
* Unsur-unsur cerita pendek adalah adegan, toko, dan gerak (scena, character, and action).
* Bahasa cerita pendek harus tajam, sugestif, dan menarik perhatian (incicive, suggestive, and alert).

sumber :http://unsilster.com/2011/01/pengertian-cerpen-dan-ciri-ciri-cerita-pendek/

Frase dan jenis-jenis Frase dalam Bahasa Indonesia

A. Pengertian Frase dalam bahasa Indonesia
Frase adalah satuan sintaksis yang satu tingkat berada dibawah klausa dan satu tingkat berada di atas satuan kata. Frase itu pasti terdiri lebih dari sebuah kata.
Frase lazim didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif, atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat. Istilah frase. Pembentukannya harus berupa morfem bebas, bukan berupa morfem terikat. Seperti contoh: konstruksi belum makan dan tanah tinggi adalah frase sedangkan konstruksi tata boga dan interlokal bukan frase, karena boga dan inter adalah morfem terikat. Yang dimaksud frase adalah konstruksi nonprediktif yaitu hubungan antara kedua unsure yang membentuk frase itu tidak berstruktur subjek- predikat atau berstruktur predikat-objek. Dan untuk itu frase juga bisa didefinisikan konstituen pengisi-pengisi sintaksis.

Contoh perbedaan frase dengan kata:
Jenis S P O K
Frase
Kata Nenek saya
Nenek sedang membaca
membaca buku humor
komik di kamar tidur
kemarin

Karena frase itu mengisi salah satu fungsi sintaksis maka salah satu unsur frase itu tidak bisa dipindahkan “sendirian” melainkan harus dipindahkan secara keseluruhan sebagai satu kesatuan.

Di dunia pendidikan formal Frase juga terkadang susah di bedakan dengan kata majemuk, sehingga dapat dibedakan karena frase tidak memiliki makna baru, melainkan makna sintaktik atau makna gramatikal, sedangkan kata majemuk komposisi yang memiliki makna baru atau memiliki satu makna.

Contoh: bentuk meja hijau yang berarti ‘pengadilan’ adalah kata majemuk, sedangkan meja saya yang berarti ‘saya punya meja’ adalah sebuah frase.
Disamping itu perbedaan kata majemuk dengan frase juga bisa dilihat dari konsep linguis struktural yang mengatakan bahwa kedua komponen kata majemuk tidak bisa disela dengan unsure lain, sedangkan komponen frase dapat disela dengan unsur lain.

Contoh:- Kata majemuk: bentuk mata sapi yang berarti ‘telur goreng tanpa dihancurkan’ karena tidak bisa disela dengan kata lain.
- Frase: mata guru yang berarti ‘mata kepunyaan guru’ karena dapat disela, misalnya menjadi matanya guru. (Abdul Chaer, 1994: 222)

B. Jenis Frase dalam bahasa Indonesia
Frase di bedakan sebagai berikut:

1. Frase Eksosentik
Frase Eksosentik adalah frase yang komponen-komponennya tidak mempunyai prilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya.
Misalnya: Dia berdagang di pasar.

Frase Eksosentik juga dibedakan atas frase eksosentik yang direktif yaitu komponen pertamanya berupa preposisi, seperti di, ke, dan dari dan komponen keduanya berupa kata atau kelompok kata, yang biasanya berkatagori nomona. Karena komponen pertamanya berupa preposisi, maka frase eksosentik ini lazim juga disebut frase proposisional.

Frase Eksosentik yang nondirektif komponen pertamanya berupa artikulasi, seperti si dan sang atau kata lain seperti yang, para, dan kaum. Sedangkan komponen keduanya berupa kata atau kelompok kata berkatagori nomina.

2. Frase Endosentrik
Frase Endosentrik adalah frase yang salah satu unsurnya atau komponennya memiliki prilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya, artinya salah satu komponennya dapat menggantikan kedudukan keseluruhannya.
Misalnya: - Nenek sedang membaca komik di kamar
- Nenek membaca komik di kamar
Frase Endosentrik lazim juga disebut frase modifikatif dan frase subordinatif.

3. Frase kordinatif
Frase kordinatif adalah Frase yang komponen pembentukannya terdiri dari dua komponen atau lebih yang sama atau sederajat dan secara potensial dapat di hubungkan oleh konjungsi koordinatif, baik yang tunggal maupun terbagi.
Misalnya: sehat dan kuat, makin terang makin baik.
Frase koordinatif yang tidak menggunakan konjungsi secara eksplisit biasanya disebut frase praktis.
Misalnya: hilir mudik, tua muda, pulang pergi.

4. Frase Apositif
Frase Apositif adalah frase koordinatif yang kedua komponennya saling merujuk sesamanya.
Misalnya: Pak Ahmad guru saya. (Abdul Chaer, 1994: 225-228).

sumber : http://imam-hambali.blogspot.com/2010/05/frase-dan-jenis-jenis-frase-dalam.html